Friday, June 23, 2006

MUMIFIKASI

Erwin Kristanto, Swasti Hertian, Djaja Surja Atmadja
Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia


Mumifikasi adalah modifikasi dari proses dekomposisi tubuh manusia dengan karakteristik penampakan tubuh yang kering, berwarna coklat, kadang disertai bercak warna putih, hijau atau hitam yang dibentuk oleh koloni jamur. Pengeringan menyebabkan kulit tampak tertarik terutama pada tonjolan tulang, seperti pada pipi, dagu, tepi iga dan panggul. Proses ini bisa terjadi secara alamiah pada kondisi yang khusus dan dapat dibuat oleh manusia sebagai salah satu cara preservasi jenasah.1

Dekomposisi
Setelah kematian, tubuh mengalami proses dekomposisi yang merupakan proses kompleks mulai dari proses autolisis sel akibat enzim-enzim autolisis, sampai proses eksternal sel oleh bakteri dari usus, jamur dan lingkungan sekitar termasuk binatang yang merusak mayat. Proses dekomposisi dapat berbeda-beda, dari satu tubuh dibanding tubuh lain, dari lingkungan satu dibanding lingkungan lain, bahkan dari satu bagian tubuh mayat dibanding bagian tubuh lain dari mayat yang sama.2
Proses dekomposisi pada tubuh manusia berlangsung kurang lebih 4 menit setelah kematian. Proses ini dimulai dengan proses yang dinamakan autolisis atau auto-digesti. Ketika sel-sel tubuh kekurangan oksigen dan karbon dioksida dalam darah meningkat, pH darah menurun, sampah atau sisa metabolisme sel tertumpuk dan meracuni sel. Kerusakan sel terjadi dan enzim-enzim dalam sel mulai menghancurkan sel dari dalam, menyebabkan sel ruptur dan melepaskan cairan yang kaya akan nutrien. Setelah cukup banyak sel yang ruptur, cairan yang kaya akan nutrien menjadi tersedia dan memungkinkan proses pembusukan selanjutnya.
Proses selanjutnya adalah penghancuran dari jaringan lunak tubuh oleh aksi mikro orgamisme seperti bakteri, fungi dan protozoa yang merupakan hasil dari katabolisme dari jaringan menjadi gas, cairan dan molekul sederhana. Dekomposisi adalah proses yang rumit, namun terutama bergantung pada suhu lingkungan dan kelembaban. Vass A dalam studinya merumuskan formula sederhana untuk memperkirakan proses dekomposisi jaringan lunak hingga menjadi tulang atau mengalami mumifikasi, pada mayat yang berbaring di udara terbuka. Menurut Vass, jumlah hari (y) yang diperlukan untuk proses ini adalah y=1285/x, dimana x adalah temperatur rata-rata dalam Celcius ketika proses dekomposisi berlangsung.3

Mumifikasi
Perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh akibat dekomposisi dapat dihambat dan digantikan dengan mumifikasi. Mumifikasi secara harafiah menggambarkan proses pembentukan “mumi”, sebuah kata yang diambil dari bahasa Persia “mum” yang berarti lilin. Kata ini diambil dari catatan sejarah Yunani kuno yang menggambarkan bangsa Persia, dalam penghormatan terhadap bangsawannya, mengawetkan mereka dengan lilin. Mayat yang mengalami mumifikasi akan tampak kering, berwarna coklat, kadang disertai bercak warna putih, hijau atau hitam, dengan kulit yang tampak tertarik terutama pada tonjolan tulang, seperti pada pipi, dagu, tepi iga dan panggul.. Organ dalam umumnya mengalami dekomposisi menjadi jaringan padat berwarna coklat kehitaman. Sekali mayat mengalami proses mumifikasi, maka kondisinya tidak akan berubah, kecuali bila diserang oleh serangga. 1,4,5
Mumifikasi pada orang dewasa umumnya tidak terjadi pada seluruh bagian tubuh. Pada umumnya mumifikasi terjadi pada sebagian tubuh, dan pada bagian tubuh lain proses pembusukan terus berjalan. Menurut Knight, mumifikasi dan adipocere kadang terjadi bersamaan karena hidrolisa lemak membantu proses pengeringan mayat.2
Mumi secara alami jarang terbentuk karena dibutuhkannya suatu kondisi yang spesifik, namun proses ini menghasilkan mumi-mumi tertua yang dikenal manusia. Mumi alami yang tertua, diperkirakan berasal dari tahun 7400 SM. Mumifikasi umumnya terjadi pada daerah dengan kelembaban yang rendah, sirkulasi udara yang baik dan suhu yang hangat , namun dapat pula terjadi di daerah dingin dengan kelembaban rendah. Di tempat yang bersuhu panas, mumifikasi lebih mudah terjadi, bahkan hanya dengan mengubur dangkal mayat dalam tanah berpasir. Faktor dalam tubuh mayat yang mendukung terjadinya mumifikasi antara lain adalah keadaan dehidrasi premortal, habitus yang kurus dan umur yang muda, dalam hal ini neonatus.6
Pada tanggal 19 September 1991, pasangan Jerman yang sedang mendaki di padang salju pegunungan Tyrolean menemukan sebuah mumi yang kemudian memberitahukannya pada pihak berwenang Itali dan Austria. Pihak Itali kemudian melakukan ekstraksi mumi yang saat lebih dikenal dengan julukan “The Iceman”. Temperatur yang amat dingin yang menghambat pembusukan dan kelembaban udara yang rendah pada ketinggian 10.000 kaki membuat mumi ini terbentuk sejak 5300 tahun lalu. “The Iceman” saat ini dipamerkan di British Museum.
The “Greenland Mummies” yang terdiri dari bayi berumur enam bulan, anak berumur empat tahun dan beberapa wanita dengan umur yang bervariasi yang diperkirakan meninggal 500 tahun lalu di sebuah gua di Greenland. Tubuh mereka mengalami mumifikasi akibat aliran udara kering dalam gua dan suhu di bawah nol derajat Celcius yang menunda proses pembusukan. Suhu yang dingin menghambat pembusukan, dan kelembaban udara yang rendah membantu pengeringan jaringan tubuh. Pada ketinggian yang ekstrim seperti pada kasus “The Iceman”, kadar oksigen yang rendah juga turut menghambat pertumbuhan bakteri aerob dalm proses pembusukan.
Kasus mumifikasi dengan preservasi anatomi dan topografi yang cukup baik di Indonesia ditemukan pada Januari 1988 di desa Cibitung kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kasus ini adalah temuan kedua di Indonesia, mayat ditemukan dalam sebuah kamar tertutup dengan suhu kamar 32 – 340C dengan kelembaban 62 – 67%. Mayat nenek ini ditemukan setelah sang nenek menurut keluarga menghilang tujuh bulan sebelumnya. Saat ditemukan, mata, hidung dan mulut sudah tidak ada. Sebagian pipi dan bibir tersisa kulit kering berwarna kelabu. Leher kiri dan kanan terdapat kulit dan jaringan otot yang mengering. Bagian depan masih ututh seluruhnya, berupa kulit dan otot yang mengering, kaku dan keras. Pada bagian belakang hanya tulang iga saja yang masih utuh. Rongga dada perut telah kosong seluruhnya. Lengan kanan berupa kulit berwarna kelabu, telapak dan punggung tangan masih utuh dan mengering. Lengan kiri mengering warna kuning kelabu dengan tangan kiri tinggal tulang-tulang saja. Tungkai kanan dan kiri tampak sebagai kulit dan otot yang teloah kering berwarna kuning coklat dengan bercak kelabu. Secara mikroskopis kulit masih menunjukkan gambaran yang dapat dikenali sebagai kulit, otot tampak sebagai serabut yang sedikit bergelombang berwarna eosinofilik dan homogen tanpa inti sel.
Mumifikasi sering terjadi pada bayi yang meninggal ketika baru lahir. Permukaan tubuh yang lebih luas dibanding orang dewasa, sedikitnya bakteri dalam tubuh dibanding orang dewasa membantu penundaan pembusukan sampai terjadinya pengeringan jaringan tubuh. Pada orang dewasa secara lengkap jarang terjadi, kecuali sengaja dibuat oleh manusia. 3

Mumifikasi Buatan
Mumifikasi yang dibuat oleh manusia yang paling populer adalah yang dilakukan oleh Mesir selama beberapa generasi.Langkah awal mumifikasi oleh pendeta Mesir adalah mengeluarkan organ dalam yang paling mudah mengalami proses dekomposisi. Otak dikeluarkan dengan menggunakan berbagai alat seperti kait dan tabung kecil dari logam yang ditusukkan lewat lubang hidung. Langkah berikutnya adalah mengeluarkan semua viscera kecuali jantung dengan irisan pada perut kiri bawah.
Hati dimasukkan dalam guci dengan penutup patung dewa berkepala manusia (Imsety), paru-paru dimasukkan dalam guci dengan penutup patung dewa berkepala kera besar (Hapy), lambung dimasukkan dalam guci berpenutup patung dewa berkepala serigala (Duamutef), usus dimasukkan dalam guci berpenutup patung dewa berkepala elang (Quebehsenuef).
Setelah viscera, tubuh dibersihkan dengan dimandikan. Untuk mengeringkan dan mengawetkan tubuh mayat, bangsa Mesir menggunakan cara seperti kita membuat ikan asin. Sebagai pengganti garam, digunakan campuran yang disebut natron, yang terdiri dari sodium carbonate, sodium bicarbonate, sodium chloride dan sodium sulfat. Sebagian bubuk natron ditaburkan disekitar mayat, sebagian lagi diletakkan dalam bentuk kantung-kantung natron penyerap air yang semuanya dibungkus dengan kain linen.
Kelembaban udara yang rendah di Mesir mempercepat proses pengeringan mayat. Setelah tubuh mayat kering, bungkus linen dibuka, kantung natron disingkirkan. Mayat dimandikan dan untuk mengisi rongga dada dan abdomen, dimasukkan linen yang direndam dalam natron. Jenasah kemudian dibalut dengan linen, dengan menggunakan resin diantara lapisan pembalut linen.
Proses ritual mumifikasi buatan ini memakan waktu kurang lebih 70 hari sejak dimulai sampai mumi siap ditempatkan dalam wadahnya di piramid.

Arti Mummifikasi dalam Interpretasi Kedokteran Forensik
Mumifikasi adalah proses yang menginhibisi proses pembusukan alami yang memiliki karakteristik dimana jaringan yang mengalami dehidrasi menjadi kering, berwarna gelap dan mengerut. Dilihat dari sudut forensik, mummifikasi memberikan keuntungan dalam hal bertahannya bentuk tubuh, terutama kulit dan beberapa organ dalam, bentuk wajah secara kasar masih dapat diidentifikasi secara visual. Mumifikasi juga dapat mempreservasi bukti terjadinya jejas yang menunjukkan kemungkinan sebab kematian. Elliot Smith (1912) menemukan mumi yang telah berumur kurang lebih 2000 tahun dan masih mampu menunjukkan bahwa sebab kematian orang itu adalah akibat kekerasan. Luka-luka yang ada cocok dengan luka akibat bacokan kapak atau pedang, tusukan tombak dan pukulan dari pegangan tombak. Foto kepala menunjukkan korban diserang saat tidur yang disimpulkan Elliot dari luka pada puncak kepala yang menurutnya tidak mungkin atau sulit dilakukan saat korban berdiri. Tidak adanya luka pada daerah lain membuat Elliot menyimpulkan bahwa tidak ada tanda perlawanan.7,8
Pada bulan Mei 1960, tubuh wanita yang mengalami mummifikasi ditemukan dalam sebuah lemari di sebuah rumah di Rhyl, North Wales. Mumi ini diperkirakan telah ada dalam lemari itu selama 20 tahun. Dr.Gerald Evans menyimpulan bahwa wanita ini dijerat, namun ia tidak dapat menemukan cukup bukti untuk menentukan sebab kematian. Ia menemukan suatu cekungan melingkar pada leher dan sisa stocking yang diikat dengan simpul hidup pada leher korban. Ia tidak dapat membuktikan apakah stocking dilingkarkan di leher korban saat ia masih hidup atau ketika sudah mati. Di pengadilan, terdakwa mengaku bahwa ia menemukan teman wanitanya di lantai dalam keadaan kesakitan dan meninggal beberapa saat kemudian. Tubuh teman wanitanya ini ditarik dan dimasukkan ke lemari, ini terjadi pada awal perang dunia kedua sekitar tahun 1940-an. Dalam pembelaannya ia menyatakan bahwa stocking di leher teman wanitanya dipakai sendiri oleh teman wanitanya untuk meringankan sakit tenggorokan yang dideritanya.
Karena sifat jaringan dari tubuh yang termumifikasi cenderung keras dan rapuh, maka untuk dapat memeriksanya potongan kecil jaringan direndam dalam sodium karbonat atau campuran alkohol, formalin dan sodium carbonate. Pada proses mummifikasi tubuh yang lebih lengkap, maka untuk dapat melakukan pemeriksaan dalam, mayat harus direndam dalam glycerin 15% selama beberapa hari. Pada mumi di North Wales, perlunakan yang memadai untuk pemeriksaan dalam dicapai dalam 42,5 jam perendaman.8
Kepentingan forensik yang tak kalah penting pada mumifikasi adalah identifikasi. Walau terjadi pengerutan namun struktur wajah, rambut dan beberapa kekhususan pada tubuh seperti tato dapat bertahan sampai bertahun-tahun. Mumi Prazyryk dari Asia Tengah berjenis kelamin perempuan yang diperkirakan berusia 2500-an tahun masih menunjukkan gambaran tato pada kulitnya dengan jelas.9
Terpeliharanya sebagian dari anatomi dan topografi jenasah pada proses mumifikasi memungkinkan pemeriksaan radiologi yang lebih teliti. Dengan pemeriksaan radiologi, jejas-jejas yang mungkin terlewatkan dalam pemeriksaan mayat dan bedah mayat dapat ditunjukkan dengan jelas dan dieksplorasi kembali lewat pemeriksaan bedah jenasah. Jejas yang nampak pada kulit mummi yang ditemukan pada tahun 1991 oleh dr.Rainer Henn MD seorang ahli forensik dari Austria menunjukkan patahan pada ulnar ketika dilakukan pemeriksaan X-foto anteroposerior. Pemeriksaan CT-scan pada mumi juga dapat mengungkapkan jejas pada lokasi yang sulit dijangkau, bahkan dengan pemeriksaan bedah mayat.10
Proses mumifikasi juga memungkinkan dilakukannya pemeriksaan DNA, bahkan pada jenasah yang berusia ratusan atau ribuan tahun. Lapisan kulit luar yang miskin akan inti sel mungkin tidak cukup baik diambil sebagai sampel, namun tulang, akar rambut, organ dalam dan sisa cairan tubuh yang mengering pada mumi dapat digunakan untuk pemeriksaan DNA. Tzar Nicholas II dan ratu Alexandra Fyodorovna beserta tujuh jenasah lain yang dikubur bersama, menjalani pemeriksaan DNA dan diambil kesimpulan bahwa lima mumi berasal dari satu keluarga dan empat mumi lain tidak. Tiga dari lima jenasah tadi diidentifikasi sebagai anak dari kedua jenasah lainnya. Sang ibu berhubungan darah dengan keluarga kerajaan Inggris dan sang ayah berasal dari keluarga Romanov. Pemeriksaan DNA mitokondria tulang dari Alexandra menunjukkan uturan T-loop yang identik dengan ketiga anaknya dan Pangeran Philip, suami Ratu Elizabeth II yang neneknya adalah saudara Alexandra. Pada Czar adalah anomali berupa heteroplasmi, dimana pada posisi basa 16169 secara konsisten terdapat basa C dan T ternyata identik dengan pemeriksaan DNA mitokondria Georgij Romanov saudaranya. Para ilmuwan 99% yakin bahwa yang mereka periksa adalah mayat dari Tzar dan keluarganya, 4 yang lain diyakini sebagai pengawalnya.11
Yang harus diingat dalam pemanfaatan mumi untuk kepentingan forensik bahwa pada mummifikasi terjadi pengerutan kulit yang dapat menimbulkan artefak pada kulit yang menyerupai luka/jejas terutama pada daerah pubis, daerah sekitar leher, dan axilla.5


Kepustakaan
1.Dix J, Graham M. Causes of Death Atlas Series. Time of Death, Decomposition, and Identification. An Atlas. London : CRC Press. 1999.
2.Knight B. Forensic Pathology. 2nd edition New York : Oxford University Press.1996.
3.Vass AA. Decomposition. Microbiology Today 2001 Nov (28):190-2. Available from URL : http://www.socgenmicrobiol.org.uk/pubs/micro_today/pdf/110108.pdf.
4.Di Maio DJ, Di Maio VJM. Forensic Pathology.2nd edition. London : CRC Press. 2001: 21-36
5.Pounder D. Postmortem Canges and Time of Death. Available from URL : http://www.dundee.ac.uk/forensicmedicine/llb/timedeath.htm. Last updated : 1995.
6.Atmadja DS, Budijanto A. Mumifikasi suatu fenomena yang langka. Majalah Patologi Indonesia 1988 Okt ; 2(2) : 28-30.
7.Budiyanto A. Ilmu Kedokteran Forensik.Edisi Pertama. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 1997.
8.Polson CJ, Gee DJ. The Essensials of Forensic Medicine. 3rd edition. New York : Pergamon Press. 1991.
9.Owen D. Hidden Evidence. Singapore : Periplus Editions (HK) Ltd. 2000.
10.Murphy WA, et all. The Iceman : Discovery and Imaging. Available from URL : http://radiology.rsnajnls.org/cgi/content/full/2263020338/DC1
11.Inman K, Rudin N. An introduction to Forensic DNA analysis. Florida : CRC Press. 1997 : 37 – 57.